5 PENYAKIT PADA HEWAN BURUNG YANG HARUS ANDA KETAHUI MENURUT DOKTER

5 PENYAKIT PADA HEWAN BURUNG YANG HARUS ANDA KETAHUI MENURUT DOKTER

Sebagian besar penyebab kematian burung, menurut Drh Dharmojono, langsung maupun tidak langsung disebabkan oleh malnutrisi (kekuranglengkapan gizi) dan stres. Banyak pemelihara memberi makan burungnya cukup banyak kadang malah berlebihan, tetapi mutunya rendah dan monoton sehingga dapat terjadi defisiensi (kekurangan sesuatu zat nutrisi). Jadi anda perlu tahu apa saja penyakit yang di derita oleh burung. Berikut adalah beberapa penyakit yang terjadi pada burung:

1. Penyakit Jamur (Candida)
Candida merupakan genus jamur yang dapat menyebabkan infeksi jamur (candidiasis) pada manusia dan hewan termasuk semua spesies burung pada segala usia dimana terjadi pertumbuhan jamur secara berlebihan atau abnormal pada sistem pencernaan terutama pada tembolok. Gejala atau tanda penyakit ini adalah terjadinya luka putih di sekitar mulut burung, muntah-muntah, kurang nafsu makan, kurang bergairah dan terjadi iritasi pada kulit.
Penyebab terjadinya penyakit jamur ini dikarenakan burung kekurangan vitamin A dan faktor lingkungan kurang sehat dimana kandang serta makanan dan minuman burung mengandung jamur. Untuk itu disarankan untuk membersihkan kandang burung secara teratur dan memberikan makanan dan minuman yang bebas jamur atau memberikan terapi antibiotik secara berkala. Cara mengobati infeksi jamur ini dapat dilakukan dengan memberikan obat anti jamur seperti nystatin, diflucan dan ketoconazole dalam bentuk cairan atau tablet kecil yang diberikan ke burung lewat oral (mulut).

2. Virus Polyoma (Polyomavirus)
Polyomavirus merupakan virus yang sangat kecil dan tidak mempunyai lapisan lipoprotein yang sering jadi penyebab virus penyebab tumor pada manusia dan hewan yang menyebabkan terjadi pertumbuhan sel kanker, replikasi DNA dan terlibat dalam pemrosesan protein. Pada burung, virus ini akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan tali ekor dan sayap termasuk menyerang organ lain secara bersamaan dan beresiko menyebabkan kematian. Pada umumnya virus polyoma menyerang burung peliharaan yang dikandangkan termasuk burung beo, bayan atau betet pada usia antara 14 sampai 56 hari.
Gejala-gejala burung terinfeksi virus ini akan muncul 10 sampai 14 hari setelah terkena infeksi dimana virus akan menurunkan kekebalan tubuh burung sehingga beresiko terkena serangan mikro organisme lain seperti virus, bakteri dan jamur yang menyebabkan terjadinya infeksi ganda. Ciri-ciri burung mengalami infeksi virus polyoma adalah nyeri pada bagian abdomen, kurang nafsu makan, diare, muntah-muntah, stress atau depresi, dehidrasi, terjadi keanehan pada ekor burung dan sering mengeluarkan air seni.
Penyebab penyakit ini adalah karena kontak dengan burung yang sudah terkena infeksi atau feses, udara dan lingkungan yang buruk. Pemberian vaksin secara berkala dapat mencegah penyakit ini disamping menerapkan metode higienes untuk lingkungan burung termasuk kebersihan kandang. Untuk pengobatannya, biasanya diberikan terapi atau obat anti virus untuk membunuh perkembangan virus dan memperbaiki sistem kekebalan tubuh pada burung.

3. Penyakit Bulu dan Paruh (PBFD)
Psittacine beak and feather disease (PBFD) merupakan penyakit pada bulu dan paruh burung betet atau beo akibat serang virus dari family circoviridae yang menyebabkan pertumbuhan bulu terganggu dan terjadinya kematian secara prematur pada jaringan sel. Gejala atau tandanya adalah burung kehilangan bulu, pertumbuhan dan bentuk bulu yang abnormal termasuk gangguan pertumbuhan paruh. Penyakit ini tidak mempunyai obat.
Untuk mencegah penyakit ini dengan melakukan karantina terhadap burung jika ditemukan burung lain mengalami penyakit ini. Dapat juga dilakukan tes DNA, biopsi dan tes darah untuk mendeteksi spesies burung yang rawan terkena infeksi virus ini. Terdapat beberapa spesies burung yang beresiko mengidap penyakit PBFD seperti burung makaw, kakak tua, beo abu-abu Afrika, burung cinta (lovebirds), lorikeet, nuri bayan dan parkit India.

4. Psittacosis
Disebut juga sebagai penyakit burung betet, psittacosis merupakan penyakit menular disebabkan infeksi bakteri klamidia, Chlamydophila psittaci yang terjadi pada beberapa spesies burung yang tertular dari burung beo atau bayan seperti makaw, cockatiel, kesturi, merpati atau dara, camar, burung gereja dan jenis burung lainnya. Penyakit ini juga dapat menular kepada manusia dan hewan lain.
Burung yang mengidap penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu. Pada umumnya tanda-tanda yang umum terjadi adalah burung kelihatan lesu, susah bernafas, radang pada bagian mata dan terjadi diare. Untuk mendiagnosa penyakit ini, burung sebaiknya diobati oleh dokter hewan atau diberikan obat antibiotik secepatnya. Karena burung ini sangat menular, burung yang didiagnosa mengidap penyakit ini harus dikarantina sampai sembuh atau tidak menunjukkan gejala tertentu.

5. Penyakit Proventricular Dilatation (PDD)
Penyakit ini menyerang ordo burung bayan atau betet (psittaciformes) dan nama penyakit ini diberikan karena burung akan mengalami peningkatan bentuk dan ukuran bagian perut. Penyakit PDD ini terbagi dalam 2 tipe. Jenis pertama adalah gangguan pada saluran pencernaan seperti proventikulus (lambung depan) dan usus. Jenis kedua yaitu gangguan saraf yang mempengaruhi sistem saraf pusat dan otak burung. Kedua jenis gangguan ini dapat bersamaan terjadi.
Gejala-gejala yang timbul adalah burung sakit tiba-tiba, muntah, kurang nafsu makan dan diare dimana kotorannya masih mengandung makanan yang tidak dicerna seperti biji-bijian. Penyebab penyakit ini tidak diketahui dengan pasti karena gejala yang timbul akan terlihat setelah hitungan bulanan atau tahunan setelah burung terkena infeksi virus.
Cara mengobatinya adalah dengan memberikan makanan yang mudah dicerna burung sehingga memaksimalkan jumlah nutrisi yang mampu diserap tubuh burung yang mengalami sakit. Disamping itu diusahakan menciptakan lingkungan yang bersih pada kandang agar mencegah burung terkena infeksi dari mikro organisme lain karena sistem kekebalan tubuhnya menurun. Dapat juga diberikan obat anti peradangan dengan dosis yang tinggi untuk mengurangi infeksi atau radang pada sistem saraf.

Apakah anda tertarik lebih dalam mengenai artikel di atas dan membutuhkan makanan sehat untuk perawatan hewan anda? Silahkan hubungi kami di kontak kami Wa 08113442900 atau email ke: Petfood.indonesia@gmail.com, atau chat langsung via website kami di www.petfoodindonesia.com. Kami siap membantu anda selalu.

Related posts

7 Tips Cara Merawat Kucing Persia agar Jauh dari Penyakit dan Kutu

Kucing persia terkenal menggemaskan. Kucing yang berasal dari nama lama Iran ini sudah populer di kalangan pecinta kucing. Karakteristik kucing persia memang khas dan ini yang membedakannya dengan kucing jenis lain. Tubuh kucing persia umumnya gemuk, tambun, dan besar....

10 Daftar Jenis Anjing Ras Terbaik untuk Diperlihara di Rumah

Anjing adalah perliharaan yang imut dan menggemaskan , tingkahnya lucu , kadang juga konyol , menjengkelkan. Tapi senakal apapun mereka , mereka adalah tetap teman hidup yang menyenangkan dan setia. Anjing menyukai kita secara alami dan tidak menuntut macam-macam...

WhatsApp chat